Panel-panel di ruang kendali pesawat tiba-tiba memerah menyala. Suara alarm nyaring menggema di seluruh lorong pesawat, menyayat ketegangan yang sudah menggantung sejak tadi.

Bip! Bip! Bip!

"Peringatan! Energi ekstrem terdeteksi dari belakang! Gelombang destruktif mendekat dalam lima puluh satu detik!"
s
Eliza yang duduk di depan panel langsung membelalakkan mata. Di layar, gambaran planet Orjeon yang tadinya utuh kini hancur berkeping. Retakan bercahaya menjalar dari inti planet seperti nadi kematian, lalu ledakan dahsyat merobek ruang angkasa, gelombang energi menyapu angkasa dalam pusaran putih keperakan yang menyilaukan.

"Apa… apa yang terjadi?! Ini... bukan ledakan biasa!" serunya. Dia berusaha menghidupkan perisai pelindung pesawat, tetapi sisa daya kekuatan pesawat tidak memungkinkan. Jika dipaksa, mereka tidak akan bisa pergi kemana-mana karena pesawat kehabisan daya.

Sara yang mendengar suara alarm segera berlari dengan cepat menuju ruang kontrol dan memandang radar. Wajahnya memucat saat melihat gelombang itu semakin dekat, menelan puing-puing bintang yang melayang di sekitarnya. Seolah kehancuran itu hidup dan memburu mereka.

"Eliza! MONA MASIH DI LUAR!" teriaknya panik.

Eliza segera menekan tombol komunikasi. "Mona! Cepat masuk! Gelombang energi menghampiri, cepat, !"

Namun suara sistem menjawab lebih dulu.

"Peringatan. Waktu tersisa dua puluh detik. Dampak gelombang diprediksi melebihi batas toleransi struktur."

Di luar pesawat, Mona sedang memperbaiki panel mesin sayap kiri. Saat menoleh ke belakang, matanya langsung membesar. Ia tak mendengar suara ledakan, tapi udara bergetar dalam diam, dan tubuhnya seperti disentuh oleh tekanan tak kasat mata. Cahaya ledakan terlihat menjalar ke arah mereka dengan kecepatan mengerikan.

Ia segera menarik tali yang mengikat badannya ke pesawat, namun tahu itu sia-sia.

Di dalam, Sara menutup mata, tubuhnya gemetar menahan pasrah sambil memeluk Isha yang meringkuk ketakutan. Eliza menggenggam panel kendali erat-erat. Ketiganya tak lagi berkata. Dalam hati, mereka hanya bisa berharap keajaiban datang… sekali lagi.

Namun sebelum gelombang itu menyentuh badan pesawat...

Tiba-tiba, tanpa sepengetahuan mereka, sebuah perisai pelindung menyelimuti seluruh pesawat. Perisai yang tak kasat mata namun memiliki kekuatan pelindung yang sangat kuat.

Gelombang kehancuran yang semestinya menghantam pesawat tiba-tiba melewati mereka begitu saja. Mona yang berada diluar melihat seperti ada sesuatu yang tak kasat mata melingkupi pesawat mereka. Aliran gelombang yang mendekati pesawat terlihat seolah terpotong karena perisai tersebut.

"Eliza, kamu menyelamatkan kita dengan menggunakan perisai pelindung. Tetap dengan ini kita jadi tidak bisa kemana-mana menunggu bantuan," batin Mona. Dia tidak menyalahkan Eliza, karena mereka masih ada peluang hidup jika menunggu bantuan tiba daripada hancur terkena gelombang tersebut.

Panel-panel di ruang kendali masih menyala merah, namun dentuman kehancuran itu tak pernah datang. Di layar radar, gelombang yang mengamuk itu seperti terbagi, meluncur di samping mereka, terbelah di dua sisi, lalu menjauh tanpa menyentuh satu pun dinding kapal.

Sara membuka matanya perlahan. Ia mendapati dirinya masih hidup.

Eliza terpaku menatap layar, mulutnya setengah terbuka. Tangannya masih menggenggam tuas kendali erat-erat.

Mona, yang sempat berhenti di luar dengan tubuh membeku dalam rasa pasrah, kini kembali bisa bergerak. Ia menoleh ke arah depan, ke arah kehampaan tempat ledakan tadi seharusnya menghantam, namun yang terlihat kini hanyalah puing-puing kecil yang melayang perlahan, seolah seluruh angkasa baru saja menghembuskan satu napas panjang.

Di tengah keheningan itu, tak seorang pun tahu apa yang sebenarnya terjadi.

Namun Leena, yang berdiri di sisi jendela ruang kendali, menatap kosong ke luar pesawat. Dalam diam, ia tersenyum samar.

Tidak lama, Leena merasakan kehadiran Lynx di tengah ruangan tempat mereka sebelumnya berpisah. Tanpa membuang waktu, ia segera menghampiri.

"Aku tahu para kultivator bisa menghancurkan sebuah planet," katanya pelan saat berdiri di samping Lynx yang telah menyimpan pakaian tempurnya. "Tapi aku tidak menyangka daya ledaknya seperti itu... Rasanya seperti sedang menonton film fiksi."

Beberapa langkah dari sana, Mona masuk dengan napas sedikit terengah. "Eliza, Sara, Isha! Kalian tidak apa-apa?"

"Eliza… kami baik-baik saja. Aku tidak menduga kita selamat," jawab Eliza dengan suara gemetar, namun penuh rasa syukur.

Mona menepuk bahu Eliza, bibirnya mengulas senyum lega. "Kau memang hebat. Bisa berpikir cepat untuk menghidupkan perisai pesawat."

Eliza menggeleng perlahan. "Perisai pesawat?" gumamnya. "Kau salah, Mona. Daya perisai kita tak cukup untuk menahan gelombang sebesar itu. Aku bahkan tak berani menyalakannya."

Mona mengernyit. "Tapi… aku melihatnya sendiri. Saat gelombang itu datang, pesawat kita seperti dilindungi oleh sesuatu. Seperti... perisai tak kasat mata yang memisahkan gelombang itu dari kita."

Mata Eliza menyempit. Ia terdiam sejenak, lalu melirik sekilas ke arah Lynx.

"Apakah pemuda itu…?" gumamnya dalam hati. "Dari monitor, aku melihat dia mengganti pakaian dengan sangat cepat. Apakah baju prajurit yang digunakannya tadi sebuah teknologi canggih? Tapi pakaian yang mereka kenakan sekarang... terlalu kuno untuk disebut teknologi canggih."

“Lynx, apa kamu sudah memastikan… tidak ada lagi yang bisa di selamatkan di sana?” tanya Leena, suaranya pelan namun sarat kekhawatiran. Dia tidak ingin Lynx membunuh mereka meskipun tidak sengaja.

Lynx menoleh, sorot matanya tenang. Ia mengangguk perlahan.

“Sudah kupastikan,” jawabnya. “Tak ada yang tersisa. Planet itu sepenuhnya telah dikuasai makhluk-makhluk itu. Tak ada kehidupan lain... hanya sisa-sisa tengkorak dan puing-puing pesawat.”

Leena terdiam sejenak, menatap ke luar jendela ke arah kehampaan tempat planet Orjeon pernah berada.

“Aku tak ingin menghancurkannya,” lanjut Lynx, suaranya nyaris seperti bisikan. “Tapi jika dibiarkan, lebih banyak nyawa yang akan hilang. Ini satu-satunya jalan.”

Lynx lalu melanjutkan, "Kita kembali sekarang ke Kota Zhurong."

Namun sebelum ia sempat menarik tangan untuk membentuk segel teleportasi, Leena menahan gerakannya.

"Tunggu dulu. Aku punya ide untuk menemukan Lala," ucap Leena sambil tersenyum, sorot matanya penuh keyakinan.

Lynx menoleh cepat, menatap Leena dengan antusias yang tak bisa disembunyikan. "Ide apa itu? Cepat katakan!"

Leena menunjuk ke arah pesawat. "Lihat, pesawat mereka memakai teknologi yang sangat maju. Aku yakin mereka bisa membantu memperbaiki mesin dimensi milik Lala, atau setidaknya mengenal seseorang yang bisa membantu kita menemukan Lala."

Lynx mengangguk dengan semangat, senyumnya merekah. "Benar katamu, sayang. Kita bisa minta bantuan mereka."

Lynx dan Leena berjalan mendekati ruang utama, menemui Eliza, Sara, Mona dan Isha yang tengah beristirahat setelah menyaksikan ledakan hebat dari kehancuran planet Orjeon. Meski suasana mulai tenang, aroma ketegangan masih tersisa di udara.

Menyadari kondisi bahaya sudah lewat, Mona segera berdiri dan beranjak pergi.

"Aku harus lanjutkan memperbaiki sistem pendorong sayap kiri. Jika tidak diperbaiki, pesawat ini takkan mampu menahan tekanan lompat ruang. Kita bisa terpecah di dalam wormhole."

Lynx dan Leena saling bertukar pandang. Leena maju mendekati Eliza dan berbicara perlahan.

"Eliza, kami membawa alat dari sahabat kami. Kami yakin benda itu bisa memberi petunjuk di mana dia berada. Tapi alat ini tiba-tiba tidak berfungsi. Bisakah kau membantunya diperiksa?"

Eliza mengambil dengan ragu-ragu dan berhati-hati. Setelah mengambil alat itu dan mengamati sejenak, ia mengerutkan kening, lalu menyerahkannya pada Sara.

"Teknologinya sangat asing. Bahkan struktur dasarnya tak cocok dengan sistem pemindai kami."

"Kami harus tunggu Mona," tambah Sara. "Dia satu-satunya yang bisa membaca sistem seperti ini."

Beberapa saat kemudian, Mona muncul dengan wajah lelah namun penuh kepuasan. Tubuhnya penuh keringat karena lelah memperbaiki mesin dengan pakaian khusus ruang hampa udara.

"Aku berhasil menstabilkan mesin sayap kiri. Perjalanan melalui wormhole bisa dilakukan kapan saja."

Lynx hendak menghampiri Mona untuk bicara, namun melihat ia langsung sibuk memeriksa stabilitas panel dan tekanan energi cadangan. Eliza pun mulai duduk di kursi kendali, mempersiapkan peluncuran.

"Sepertinya belum waktunya bicara," bisik Leena, menatap Mona yang masih berjibaku di ruang kendali.

Lynx mengangguk. "Kita tunggu kesempatan."

Namun detik berikutnya, suara sistem menggema di seluruh ruangan.

"Pengaktifan wormhole dimulai. Mesin siap dalam tiga puluh detik."

"Kita tak punya pilihan," ujar Leena pelan.

Lynx menggenggam tangannya. Cahaya wormhole mulai melingkupi pesawat. Dalam sekejap, pesawat itu lenyap ke dalam pusaran ruang, membawa mereka melintasi batas-batas semesta—menuju dunia baru yang tak mereka kenali.

